Agen Judi, Agen Bola, Agen Casino, Agen Poker, Agen Togel
0

Pro Kontra Harga Rokok di Indonesia Naik jadi Rp 50.000 / Bungkus

Gopoker77 – Wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 / bungkus semakin mencuat. Ketua DPR RI, Ade Komarudin mendukung wacana ini karena akan membantu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, wacana pemerintah yang ingin menaikkan harga rokok hingga dua kali lipat ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara.

“Kalau dinaikkan harganya, otomatis penerimaan negara dari sektor cukai akan meningkat. Itu artinya, menolong APBN kita supaya lebih sehat di masa mendatang,” kata Ade Komarudin seperti ditulis Antara, Sabtu (20/8).

Bandar Keliling, Bandar Q, Capsa Susun, Cara Bermain Capsa Susun, Cara bermain Domino QQ, Cara Bermain Poker, Domino QQ teraman, Judi Uang Asli, Poker Indonesia, Poker Online Terpercaya, Poker Teraman, Poker Uang Asli, Sabung Ayam, Slot Game, Trik Baca Kartu Lawan, Trik Jitu Poker, Trik Menang Poker Online

Selain itu, usulan pemerintah terkait dengan kenaikan harga rokok itu juga akan dapat mengurangi perilaku konsumtif masyarakat terhadap rokok. Kenaikan harga merupakan upaya untuk mengurangi jumlah perokok yang ada di tengah masyarakat.

Ade Komarudin meyakini bahwa kenaikan harga rokok tidak akan berdampak secara signifikan pada industri rokok, termasuk keberlangsungan petani tembakau.

“Saya menyakini bahwa hal ini tidak akan mengganggu petani tembakau untuk mereka dapat seperti sediakala bekerja di sektornya,” katanya.

Hasil studi berbagai pihak menyatakan bahwa perokok aktif bakal lebih besar kemungkinannya untuk berhenti jika harganya dinaikkan setidaknya dua kali lipat dari harga normal.

Ketua Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Widyastuti Soerojo mengatakan Indonesia belum benar-benar merdeka karena masih dibelenggu oleh penjajahan gaya baru, yaitu “penjajahan” rokok.

“Industri produk tembakau di mana pun di dunia sama-sama melakukan campur tangan kepada pemerintah suatu negara. Yang membedakan adalah tanggapan pemerintahnya,” kata Widyastuti,

Tuti, panggilan akrab Widyastuti mengatakan, industri produk tembakau di berbagai negara selalu menggunakan pengaruh politik dan kekuatan ekonominya untuk mengganjal kebijakan yang merugikan mereka, khususnya kebijakan pengendalian tembakau.

Rencana kenaikan harga rokok ini juga didukung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mendukung adanya wacana pemerintah pusat menaikkan harga satu bungkus rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus. Sebab, harga yang tinggi itu dinilai dapat menekan jumlah perokok, terutama perokok usia sekolah dan usia produktif.

“Wah bagus itu. Jadi untuk bisa menekan para perokok yah naikkan saja,” kata Djarot dikutip dari Antara, Rabu (10/8).

Tidak hanya menaikkan harga rokok mencapai Rp 50.000 saja, pemerintah juga diminta menaikkan pajak rokok semakin tinggi. Terutama bagi rokok yang banyak penggemarnya.

“Kasih pajak juga yang tinggi. Terutama untuk rokok yang banyak penggemarnya, nggak apa-apa itu,” kata Djarot.

Kendati demikian, setiap kebijakan pasti akan memiliki dampak positif dan negatif. Karena dia meminta pemerintah pusat melakukan kajian yang tepat agar mendapatkan solusi terhadap dampak yang akan ditimbulkan. Sehingga tidak merugikan masyarakat, terutama petani tembakau.

“Tapi dampaknya petani tembakau, pekerja di perusahaan rokok. Makanya dihitung betul dampak negatif dan positifnya. Bukan hanya pembatasan area perokok, tetapi juga industri rokok kreteknya,” kata Djarot.

Harga rokok di luar negeri sangat mahal, karena di negara-negara besar tersebut tidak ada pabrik rokok. Sedangkan di Indonesia, banyak pabrik rokok yang mempekerjakan ribuan rakyat Indonesia, katanya.

“Di luar negeri sudah mahal banget. Karena dia nggak punya pabrik rokok di sana. Tapi di Indonesia berbeda. Jadi tolong ini dikaji betul secara seksama tentang persoalan ini. Saya secara umum setuju ini diterapkan, karena salah satu penyumbang inflasi di Jakarta adalah rokok. Tapi tolong dikaji betul,” kata Djarot.

Dinas Kesehatan juga mendukung rencana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus.

Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Jawa Barat berharap kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus tidak hanya sebatas wacana. Pemerintah pusat didukung untuk segera menerapkan harga baru.

“Kami mendukung langkah pemerintah pusat untuk menekan angka pecandu rokok di Indonesia dengan menaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 untuk setiap bungkusnya atau ada kenaikan dua hingga kali lipat dibandingkan harga lamanya,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan dan Promosi Kesehatan (SDKPK) Dinkes Kota Sukabumi, Irma Agristina seperti ditulis Antara Sukabumi, Sabtu (20/8).

Menurutnya, seharusnya harga rokok tersebut tidak terjangkau khususnya oleh pelajar. Sebab, dampak buruk dari kecanduan merokok tidak hanya mengganggu kesehatannya saja, tetapi bisa merusak psikologi si pencandu khususnya dari kalangan pelajar.

Meski demikian, dia mengakui rencana kenaikan harga rokok akan menimbulkan pro dan kontra. Akan tetapi dampak buruk rokok dinilai lebih besar dari pada manfaatnya. Karena dengan semakin banyak pelajar atau usia produktif kecanduan rokok, maka tingkat kesehatan di masyarakat akan terus berkurang.

Dampak buruk asap rokok ini tidak hanya bagi si perokoknya saja, tetapi orang lain yang ikut menghisap racun yang terkandung dalam asap rokok itu, bahkan bahayanya lebih tinggi.

“Menaikan harga rokok tidak serta merta mengurangi secara drastis jumlah pecandu, tetapi diharapkan ada dampak positifnya seperti jumlah anak dan kelurga yang merokok berkurang. Sehingga rokok tidak bisa dibeli dengan mudah oleh seluruh kalangan, kecuali mereka yang mempunyai uang lebih,” tambahnya.

Meski demikian, Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun tak setuju dengan kenaikan harga rokok ini.

Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengingatkan Pemerintah agar berhati-hati dalam menyikapi wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkusnya. Menurut dia, bisa saja isu tersebut ditunggangi oleh kepentingan asing yang memiliki tujuan tertentu.

“Pemerintah jangan terjebak oleh kampanye anti rokok yang dikendalikan oleh kepentingan asing,” kata Misbakhun di Jakarta, Sabtu (20/8).

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, apabila harga rokok dinaikkan menjadi Rp 50.000 per bungkus, maka nasib industri rokok jelas akan bangkrut dan otomatis ribuan tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada pabrik tersebut akan kehilangan pekerjaannya.

Menurutnya industri rokok baik golongan industri kecil, menengah dan industri besar akan terpukul karena keputusan harga 50.000 per bungkus ini. Industri rokok kecil dan menengah saat ini sudah terpuruk dengan kebijakan pita cukai yang kurang melindungi kepentingan mereka. Akibatnya, jumlah industri rokok kecil dan menengah makin lama jumlahnya makin menyusut.

Jika pabrikan rokok gulung tikar, maka jutaan pekerja di sektor tembakau akan menganggur, dan catatan kemiskinan Indonesia akan semakin besar,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, nasib para petani tembakau semakin tidak menentu akibat dampak kenaikan harga rokok tersebut yang memiliki kontribusi penting bagi penerimaan negara melalui penerapan cukai, pajak, bea masuk/bea masuk progresif, pengaturan tata niaga yang sehat maupun pengembangan industri hasil tembakau bagi kepentingan nasional.

Sektor pertembakauan dari mulai budidaya, pengolahan produksi, tata niaga, distribusi, dan pembangunan industri hasil tembakaunya mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional dan mempunyai multiplier effect yang sangat luas.

“Efek tersebut antara lain, berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan industri 5-7 persen. Penerimaan negara (cukai) merupakan kebijakan penerimaan negara (APBN) yang signifikan (141,7T). Industri tembakau-rokok berkontribusi dalam output nasional 1,37 persen atau setara USD 12,18 Miliar,” tuturnya.

Misbakhun memaparkan, bahwa industri pertembakauan memberi kontribusi perpajakan terbesar (52,7 persen) dibanding BUMN (8,5 persen), Real estate dan konstruksi (15,7 persen) maupun kesehatan dan farmasi (0,9 persen).

“Fakta bahwa industri tembakau merupakan industri padat karya yang menyerap jumlah tenaga kerja lebih dari 6,1 juta dan menciptakan beberapa mata rantai industri yang dikelola oleh rakyat (pertanian, perajangan, pembibitan, dan lain lain),” jelas dia.

Misbakhun yang berasal dari daerah pemilihan Jawa Timur II menegaskan bahwa Pasuruan dan Probolinggo merupakan basis petani tembakau dan industri rokok berada.

“Tugas saya adalah menyuarakan kepentingan masyarakat di daerah pemilihan saya. Mereka adalah para pemilih saya saat pemilu legislatif. Tidak ada jalan politik lain bagi saya kecuali memperjuangkan aspirasi para petani tembakau dan para pekerja serta buruh pabrik rokok di daerah pemilihan saya. Sebagai anak bangsa mereka punya hak hidup dan harus dilindungi kepentingan mereka oleh negara secara adil,” tegasnya.

 

Support By Gopoker77.com :

  1. Poker Online Terpercaya
  2. Poker Teraman
  3. Poker Indonesia
  4. Poker Uang Asli
  5. Domino QQ teraman
  6. Capsa Susun
  7. Bandar Q
  8. Bandar Keliling
  9. Judi Uang Asli
  10. Cara Bermain Poker
  11. Cara bermain Domino QQ
  12. Cara Bermain Capsa Susun
  13. Trik Jitu Poker
  14. Trik Menang Poker Online
  15. Trik Baca Kartu Lawan
Agen Judi, Agen Bola, Agen Casino, Agen Poker, Agen Togel

GoPoker77

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *